Pemain Ini Punya KTP Ganda? Fakta Nyeleneh Dunia Bola 2025!

Dunia sepak bola selalu punya cerita unik yang bikin geleng kepala. Mulai dari selebrasi absurd, sampai kisah pemain yang mendadak viral karena hal tak biasa.
Siapa Pemain Penuh Misteri?
Atlet yang dimaksud bernama Luis Javier Cortez, talenta pemain bertahan dengan usia 21 tahun. Sosok ini lahir di dua negara, yang mencurigakan adalah Paraguay dan Brasil. Isu naik ke permukaan setelah KTP yang muncul saat pendaftaran liga berbeda di masing-masing negara.
Bagaimana Punya Data Ganda?
Sejumlah pengamat menilai kemungkinan pemain mendaftarkan identitas ganda demi memenuhi syarat usia. Beberapa spekulasi menyebut, tanggal lahir asli tidak masuk U-23, sehingga dibuat data kedua agar bisa berkompetisi pada kategori U-23. Strategi semacam ini sebetulnya bukan fenomena baru di ekosistem sepak bola internasional.
Federasi Mulai Turun Tangan
Sesaat setelah isu ini muncul di media, federasi sepak bola dunia segera mengaktifkan departemen khusus untuk mendalami aspek hukum terkait kecurigaan identitas ganda yang bersangkutan. Asosiasi nasional bahkan diperintahkan menyerahkan bukti valid terkait proses pendaftaran di setiap turnamen.
Reaksi Netizen Serta Komunitas Sepak Bola
Tak butuh waktu lama, berita ini spontan meledak di kalangan penggemar. Topik #DoubleIDPlayer muncul sebagai bahasan utama di X. Beberapa akun mengolok sistem administrasi yang terlalu longgar, di sisi lain suporter terbagi antara yang membela atau yang menginginkan kejelasan.
Efek Regulasi Jika Terbukti Bersalah
Bila pemain ini secara sah mendaftarkan identitas ganda, konsekuensi yang bisa diterima tidak main-main. Mulai dari diskualifikasi dan denda besar untuk pemain dan juga agensi yang terlibat. Selain itu, regulasi kompetisi profesional pasti disempurnakan demi kasus serupa tidak akan muncul lagi.
Apakah Ini Bukan Kasus Pertama?
Perlu diketahui, fenomena ini bukan satu-satunya yang pernah terjadi. Sebelumnya, beberapa pemain sepak bola pernah tersandung identitas fiktif, terutama di turnamen pemuda. Dengan kata lain, kontrol administrasi pemain belum cukup dibangun dengan teknologi di era olahraga profesional yang makin digital.
Akhir Kata
Kasus dua negara adalah bukti jika lingkup olahraga masih terlindung dari masalah integritas. Walau terkesan absurd, konsekuensinya bisa memengaruhi reputasi tim sampai sistem kompetisi.






