Warga Kampung Pancasila Surabaya Mendorong Ekonomi Melalui Solidaritas yang Kuat

Kampung Pancasila di Surabaya adalah contoh nyata bagaimana solidaritas sosial warga mampu berkembang menjadi sistem ekonomi berbasis komunitas. Melalui berbagai inisiatif seperti bank sampah, pengelolaan dana sosial mandiri, dan mekanisme gotong royong, warga Kampung Pancasila telah berhasil membangun model kemandirian yang mengubah kepedulian sosial menjadi penggerak ekonomi.
Integrasi Solidaritas dalam Ekonomi Komunitas
Di Kampung Pancasila RW 9 Lemah Putro, Surabaya, terdapat gambaran jelas bagaimana solidaritas warga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, pernah langsung meninjau aktivitas warga dan menyaksikan bagaimana solidaritas sosial diubah menjadi sistem bantuan mandiri yang terorganisir.
Menurut Wali Kota Eri, nilai-nilai Pancasila nyata dalam tindakan warga. “Saya bangga dengan RW 9 ini karena sudah menjalankan Kampung Mandiri. Data keluarga miskin kita rekap, mana yang dicover pemerintah kota dan mana yang dibantu melalui swadaya mandiri RW,” ucap Wali Kota Eri.
Sistem Verifikasi Data Kemiskinan
Pemerintah Kota Surabaya menerapkan sistem verifikasi data kemiskinan yang ketat. Pendataan dilakukan dengan menggunakan puluhan indikator, termasuk kondisi fisik rumah dan tingkat pendapatan keluarga. Melalui mekanisme ini, Pemerintah Kota berupaya memastikan bahwa bantuan sosial benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan.
Wali Kota Eri juga menekankan bahwa bantuan sosial seharusnya tidak menciptakan ketergantungan. Ia menegaskan bahwa warga usia produktif yang memiliki kemampuan bekerja, tetapi tidak memiliki kemauan untuk berusaha, seharusnya tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.
Pemilahan Sampah dan Gotong Royong
Di Kampung RW 9 Lemah Putro, solidaritas warga juga terlihat dalam pengelolaan lingkungan. Warga menerapkan pemilahan sampah dari rumah tangga yang kemudian dikumpulkan dan dikelola melalui sistem bank sampah. Sampah kering yang terkumpul dijual, dan sebagian hasilnya dikembalikan kepada warga sebagai dana tambahan.
Wali Kota Eri menilai bahwa inisiatif ini sejalan dengan upaya membangun lingkungan permukiman yang sehat dan berkelanjutan. Ia juga menegaskan bahwa warga yang tidak mau bekerja bakti tapi mengeluh banjir, tidak perlu didengarkan. “Kita harus bergerak bersama,” tegasnya.
Penguatan Solidaritas Sosial
Di sisi lain, Wali Kota Eri juga mendorong warga yang kondisi ekonominya lebih baik untuk ikut memperkuat solidaritas sosial di lingkungannya. Menurutnya, zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebaiknya diprioritaskan bagi warga sekitar agar manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat setempat.
Wali Kota Eri berharap RW 9 Lemah Putro menjadi contoh bagi RW-RW lainnya di Surabaya. “Jika RW-nya gerak, PKK-nya gerak, KSH-nya gerak, dan warganya kompak, maka kesejahteraan itu pasti tercapai,” tuturnya.
Inisiatif Kolektif Warga
Praktik serupa juga terlihat di Kampung Pancasila RW IV Kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo. Di kampung tersebut, solidaritas warga berkembang melalui berbagai inisiatif kolektif, mulai dari pengelolaan sampah mandiri, sistem keamanan lingkungan terpadu (SISKAMDU), hingga pengumpulan dana sosial antarwarga.
Wali Kota Eri menekankan bahwa kekuatan utama dari Kampung Pancasila adalah kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat. Ia mengapresiasi keterlibatan warga RW IV Ngagel Rejo yang aktif membantu antar sesama.
Pendekatan Kemandirian Ekonomi
Ketua RW IV Ngagel Rejo, Endang Purwaningtyas, menyampaikan bahwa solidaritas warga di lingkungannya telah berkembang menjadi sistem bantuan sosial yang terkelola secara kolektif. Ia mencatat, sejak 2024 hingga Februari 2026, total donasi yang dihimpun dari warga mencapai Rp90.331.000 dan sebagian besar telah disalurkan untuk berbagai kebutuhan sosial masyarakat.
Endang menuturkan bahwa dana tersebut digunakan untuk berbagai keperluan warga. Mulai dari bantuan sembako, pengadaan kursi roda bagi lansia, hingga dukungan rutin untuk program Bangga Surabaya Peduli (BSP). “Mungkin ini jadi bagian kecil. Tapi walaupun kecil, kami selalu menginspirasi warga bahwa kita itu harus bermanfaat dan ikut serta dalam pembangunan masyarakat,” ujar Endang.
Bank Sampah dan Program Swadaya
Di sisi lain, kemandirian ekonomi warga RW IV Ngagel Rejo juga diperkuat melalui Bank Sampah “Guyub Sayekti” di RT 18. Setiap bulan, bank sampah tersebut mampu mengelola sekitar 3 hingga 3,5 ton sampah kering yang kemudian dijual untuk membiayai berbagai kebutuhan kampung, mulai dari pengadaan CCTV hingga bantuan pendidikan bagi warga.
Ketua RW 9 Lemah Putro, Agung Diponegoro, mengatakan bahwa konsep Kampung Mandiri di wilayahnya terus diperkuat melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. “Kami memiliki sistem perlindungan sosial mandiri. Di antaranya bantuan kesehatan Rp250.000 untuk warga yang sedang sakit (dirawat di Rumah Sakit) dan santunan kematian Rp400.000,” kata Agung.
Agung menyebut, warga juga mengembangkan berbagai program ekonomi swadaya. Termasuk budidaya lele dan pengelolaan Kas Kampung Madani yang dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan sosial warga. “Inilah lini ekonomi yang terus kami jalankan di Lemah Putro dengan solidaritas dan gotong royong,” pungkasnya.